Thank you for visiting this blog. Please don't hesitate to contact us if you find error/s. We would appreciate your comment to improve your experience in this blog.


0901P - PENGOBATAN ALA NABI[1]

Makalah ini dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang, bulan Januari 2009, oleh Dr Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) Harvard, DrPH(Harvard) Profesor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan Profesor Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB: http://omarkasule.tripod.com


KARAKTERISTIK DASAR PENGOBATAN ALA NABI
Definisi: Thibbun Nabawi mengacu pada kata dan tindakan Rasul yang terkait dengan usaha menanggulangi wabah penyakit, penyembuhan penyakit, dan perawatan pasien. Termasuk ucapan Rasul mengenai masalah kesehatan, tindakan medis yang dipraktekkan orang lain pada masa Rasulullah, tindakan medis yang dipraktekkan oleh Nabi pada diri Beliau sendiri dan orang lain, tindakan medis yang diamati oleh Rasul, prosedur kedokteran yang Rasul dengar dan ketahui tentangnya dan tidak melarang, atau praktek-praktek kedokteran umum yang harus diketahui Rasulullah. Pengajaran Pengobatan Ala Nabi khusus untuk tempat, populasi, dan waktu tertentu. Termasuk juga pedoman umum kesehatan fisik dan mental yang bisa digunakan pada semua tempat, waktu dan segala kondisi. Thibbun nabawi bukan satu-satunya sistem kesehatan sistematis monolitik sebagaimana beberapa orang ingin kita mempercayainya. Hal ini bervariasi sesuai kondisi, meliputi pengobatan pencegahan, pengobatan kuratif, keadaan mental yang baik, spiritual yang terjaga, ruqyah, perawatan kesehatan dan praktik bedah. Thibbun nabawi menyatu dengan pikiran dan badan, ruh dan jasad.

Penelitian Metode Penyembuhan: Rasul mengatakan sebuah prinsip dasar dalam pengobatan untuk setiap penyakit adalah perawatan (ma anzala allahu daa; illa anzala lahu shifa'a- Kitaab al Tibb, al Bukhari). Hal ini mendorong kita untuk mencari cara pengobatan. Dengan demikian, tradisi pengobatan ala Nabi tidak hanya berhenti pada pengajaran pengobatan oleh Rasulullah ,melainkan untuk mendorong manusia agar terus mencari dan bereksperimen dengan ilmu pengobatan baru. Hal tersebut merupakan implikasi bahwa pengobatan ala Nabi tidaklah statis. Ada ruang untuk berkembang , bahkan memunculkan dasar ilmu yang baru. Implikasi-implikasi lainnya dari hadist ini adalah pengobatan tidak bertentangan dengan qadar (ketentuan awal). Keduanya baik penyakit maupun penyembuhannya adalah bagian dari qadar.

SUMBER THIBBUN NABAWI
Pengobatan Arab pada Masa Sebelum Islam: Thibbun nabawi mempunyai beberapa sumber: wahyu; pengalaman empiris Rasulullah, pengobatan tradisional pada masa itu di semenanjung Arab, serta sangat mungkin ilmu pengobatan dari komunitas lain telah diketahui di Mekkah dan Madinah pada masa Rasulullah.

Al Qur’an sebagai salah satu sumber Thibbun nabawi : Banyak ayat dalam Al Qur’an yang berhubungan dengan penyakit dalam tubuh dan pikiran serta cara penyembuhannya.. Al Qur’an berbicara tentang kesehatan fisik dan mental yang buruk/ penyakit hati. Al Qur’an memuat tentang do’a untuk kesehatan yang baik sebagaimana panduan terapi khusus seperti madu, hanya memakan makanan yang sehat dan halal, menghindari makanan yang haram dan tidak sehat, serta tidak makan dalam jumlah yang berlebihan. Al Qur’an bukanlah buku teks kesehatan tetapi sebuah kitab bimbingan moral. Berisikan informasi dan pedoman dasar mengenai masalah kesehatan yang memberikan kesempatan manusia untuk melakukan penelitian dan menambah keterangan lebih detail. Menyempitkan jenis obat hanya sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an akan membuatnya sangat terbatas karena Al Qur’an sangat selektif dalam pengawasan secara khusus terhadap hal-hal mendetail yang memungkinkan lahan terbuka bagi manusia untuk berobservasi, mencari tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi, aayaat al llaah fi al ardh

Hadist Sebagai Sumber thibbun nabawi: Berikut ini adalah bentuk-bentuk dari pengajaran kesehatan oleh Rasulullah: Sabda Rasul tentang masalah pengobatan, perawatan medis yang dipraktekkan orang lain pada masa Rasulullah, perawatan medis yang diamati Rasul, prosedur medis yang Rasul dengar/ketahui tentangnya dan tidak melarang. Jumlah keseluruhan hadist tentang pengobatan sekitar 300; Banyak yang tidak mencapai tingkatan hasan. Bukhari dalam Sahihnya menceritakan 299 hadist yang secara langsung berhubungan dengan pengobatan. Beliau menyumbangkan dua buah buku kesehatan: kitaab al tibb dan kitaab al mardha. Banyak hadist Bukhari lainnya yang secara tidak langsung berhubungan dengan kesehatan. Para akademisi telah mengumpulkan hadist-hadist ini dan beberapa diantara mereka menghubungkannya dengan ilmu kedokteran yang telah ada . Hadist mengenai pengobatan fisik berdasarkan pada wahyu maupun pengalaman empiris. Dalam banyak kasus, kita tidak dapat memisahkan dua sumber hukum tersebut, kecuali ada indikasi khusus bahwa wahyu dibutuhkan, misalkan dalam hadist pemakaian maduuntuk mengobati penyakit perut ringan seorang shahabat. Jadi, hadist yang tidak menjelaskan wahyu  bersifat tidak mengikat, ghair mulzimat. Akan tetapi, semua hadist mengenai penyembuhan jiwa dari penyakit adalah wahyu dan wajib, mulzimat

Buku-buku tentang thibbun nabawi: Banyak buku telah ditulis mengenai al thibb al nabawi selama beberapa abad : 

al Tibb al Nabawi ditulis oleh Ibn al Qayyim al Jauziyyah (d. 751H / 1350 M), al Hafidh Abu Abd al llaah Syamsudiin Muhammad bin Ahmad al Dhahabi (d. 748H), Abu al Qasim al Husain bin Muhammad bin Habiib al Naisapuuri (d. 206H), Abu al Sunni Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al Dainawiri (d. 364H), Abu Nu’aim Ahmad bin Abd al llaah al Asfahani (d. 430H), Abu al ‘Abbaas Ja’afar bin al Mu’utazz al Mustansiri (d. 433H), Dhia al Ddiin Muhammad bin ‘Abd al Waahid al Maqdasi (d. 643H), Syamsudiin Abu Abd al llaah Muhammad bin Abi al Fath al Ba’ali (d. 709H), Abu Abd al llaah Muhammad bin Yusuf al Sanuusi (d.. 895H), Abu al Hasan Nuruddiin Ali Bin Muhammad al Jazaar al Masri (d.. 914H), Qaisuufi Zaadet Muhammad Badrudiin (d. 1020H), Abdul Waziir al Abhari. Jamaaluddiin Daud, 

Mukhtasar al tibb al nabawi ditulis oleh Jalaluddin al Suyuti.
Al Ahkaam al Nabawiyyat fi al sina’at an tibiyyat ditulis seorang dokter Ali bin Tarkhaan. Kitaab al tibb fi al hadiith oleh Abu ‘Ubaid bin al Hasan al Harraani (d. 369H).
Al Ahkaam al Nabawiyyah fi al sina’at al tibiyyat oleh Ali bin Abdul Karim al Hamawi (d. 720H).

Al Rahmat fi al Tibb wa al Hikmat oleh Mahdi bin Ali al Sabiiri (d. 815H),
Al Sayr al Qawi fi al Tibb al Nabawi oleh Muhammad bin And al Rahman al Sakhaawi (d. 902H),
Al Manhaj al Sawi a al Manhal al rawi fi al Tibb al Nabawi oleh Jalaluddiin Abdul Rahman bin Abu Bakar al Suyuti (d.911H).
Al Rahmat fi al Tibb wa al Hikmat dari Jalaluddiin Abdul Rahman bin Abu Bakar al Suyuti (d.911H). 

Rawdh al Insan fi Tadaabiir Sihhat al Abdaan oleh Khair al Ddiin Khidhr bin Mahmud al ‘Atuufi al Murzaifuuni (d. 948H). 

Al Masaabih al Sunniyyat fi Tibb Khair al Bariyyat oleh Shihaabuddiin Abu al ‘Abbaas Ahmad bin Ahmad bin Salamah al Qalyuubi (d. 1069H). 

Sihhat Aabaad oleh Utsman Zadeh Thaib Ahmad (d. 839H).
Mukhtasar al Tibb al Nabawi oleh Mur’ish ZadehQudduus Ahmad Affendi (d. 1265H). 

thibbun nabawi Membutuhkan Buku-buku Baru: Dalam bukunya Thibb al Nabawi, Imaam Ibnul Qayim al Jauziyah menyebutkan banyak kondisi kesehatan yang pedomannya telah disediakan oleh Rasulullah. Beliau menafsirkan hadist menggunakan pengetahuan yang telah ada pada masanya. Buku ini membutuhkan penulisan kembali dan akan terlihat sangat berbeda jika tulisannya menafsirkan tradisi Rasulullah menggunakan pengetahuan medis terkini. Dengan pengetahuan medis modern kita bisa mengidentifikasi lebih banyak hadist yang relevan dengan dunia kedokteran.

KLASIFIKASI THIBBUN  NABAWI:
Thibbun nabawi Preventif (Pencegahan): Klasifikasi tradisi yang berhubungan dengan pengobatan tergantung pada kondisi ilmu pengetahuan serta perubahannya mengikuti ruang dan waktu. Jalaluddin al Suyuti menulis sebuah buku tentang thibbun nabawi dan membagi pengobatan menjadi 3 jenis: tradisional, spiritual dan pencegahan. Kebanyakan thibbun nabawi merupakan pencegahan. Konsepnya tergolong ilmu pengetahuan yang sangat maju pada masa hidup Rasulullah serta diyakini merupakan ilham yang turun langsung dari Allah. Al Suyuti (1994) menguraikan langkah medis preventif seperti makanan dan olahraga. Langkah medis preventif lainnya yang diajarkan di dalam hadist meliputi: karantina untuk penderita wabah, hijr sihhi, melarang urinasi pada air yang tenang / tidak mengalir, penggunaan sikat gigi, siwaak, perlindungan rumah pada malam hari dari kebakaran dan penyakit pes, meninggalkan sebuah Negara karena keadaan air dan iklimnya, kesehatan mental dan pernikahan, kesehatan pernikahan dan seksual, kontrol diet untuk mencegah berat badan berlebihan, menjaga kebersihan dan mencegah najis.

 thibbun nabawi Spiritual: Penelitian thibbun nabawi menyatakan bahwa ada aspek-aspek spiritual dari pennyembuhan dan pemulihan. Doa, pembacaan Al Qur’an, dan mengingat Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Penyakit psikosomatik dapat merespon pendekatan spiritual. Penggunaan ruqyat (surat al fatiha, al mu’awadhatain) jatuh di antara proses penyembuhan fisik dan spiritual.  Bagian penyembuhan dari ruqyat bisa difahami dalam istilah modern : bahwa jiwa mampu mengendalikan mekanisme kekebalan tubuh yang mencegah penyakit.

thibbun nabawi Kuratif (Penyembuhan): Ibnul Qayim al Jauziyah menyebutkan banyak penyakit yang tindakan medisnya direkomendasikan dari thibbun nabawi. Penyakit-penyakit oleh thibbun nabawi dapat diobati dengan pengobatan alami: demam, humma; pergeseran bowl, istitlaq al batan; dropsy, istisqa; luka, jarh; epilepsi, sar’a; sciatica, ‘irq al nisa; tekanan darah tinggi, tabau’; iritasi kulit, hakk al jism; pleurisy / radang selaput dada, dhaat al janb; sakit kepala dan hemikrania, sidau and shaqiiqat; radang tenggorakan, ‘adhrat; pembesaran jantung, al maf’uud; ; ophthalmia, al ramad; catalepsy, khudran al kulli; iritasi, bathrat; erupsi kulit, awraam; keracunan makanan, sum; pengaruh sihir, sihr; dan kutu kepala. Beliau juga menyebutkan penyakit-penyakit lainnya seperti: pes, leprosy, penyakit mata, tenggorokan dan tonsil, diare, penyakit lambung, demam, gigitan ular, gigitan kalajengking, keracunan makanan dengan gejala pening, sakit kepala, hidung berdarah, gigi, batuk, dropsy, sprain / keseleo, fracture / patah, gigitan anjing rabies, dan mata merah.. Perawatan medis yang disebutkan adalah madu, al 'asal; air dingin untuk demam, al mau al barid; diet, ghadha; susu, al laban; susu unta, urine unta. Biji gelap, al habba al sauda, yang dijelaskan khususnya. Perawatan bedah yang disebutkan adalah: bekam, al hijaam; kauterisasi, al kayy; veneseksidengan kauterisasi qatiu al uruuq wa al kayy

APLIKASI THIBBUN NABAWI UNTUK ZAMAN SEKARANG
Pertimbangan umum: Ada 3 aspek yang berhubungan dengan aplikasi modern thibbun nabawi. (a) apakah thibbun nabawi bagian dari syariah? (b) apa cakupan dari thibbun nabawi? (c) perubahan ruang dan waktu (d) penelitian empiris tentang thibbun nabawi.
Thibbun nabawi Sebagai Bagian dari Syari’at: Syari’at dapat dibedakan menjadi dua pengertian: (a) peraturan yang tetap dan kokoh, yang bisa diaplikasikan untuk segala tempat dan waktu, dan (b) prinsip-prinsip umum yang aplikasi detailnya berubah mengikuti tempat dan waktu. Jika kita mengambil arti syari’at dalam (b) di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pengobatan ala Nabi adalah bagian dari syari’at Islam yang bisa berubah dan tumbuh menggunakan ijtihad dan penelitian empiris untuk mengaplikasikan prinsip  umum syari’at pada kondisi yang berubah-ubah.

Cakupan thibbun nabawi: Telah dijelaskan bahwa Thibbun Nabawi tidak mencakup seluruh penyakit yang mungkin terjadi pada masa Rasulullah, juga tidak bisa mencakup semua penyakit ringan zaman sekarang atau masa depan di berbagai belahan dunia. Hal ini sangat mudah difahami, konteksnya adalah saat mempraktikkan ilmu kedokteran misi utama beliau bukanlah ilmu kedokteran dan beliau bukan sepenuhnya seorang dokter. Hadist Rasul seharusnya tidak dilihat sebagai buku teks pengobatan, tetapi digunakan untuk penyakit-penyakit yang berhubungan dengannya. Cara yang paling sesuai untuk mendapatkan tambahan ilmu pengobatan  adalah melalui penelitian dan mencari tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. 

Perubahan Ruang dan Waktu: Apapun yang Rasul katakan atau lakukan adalah benar dan harus diikuti karena Beliau tidak pernah berkata dusta bahkan bercanda. Ijtihad Rasul hingga dalam masalah-masalah duniawi pun dilindungi, ma'suum. Bukti otentik hadist yang kita punyai sangatlah valid, baik dalam masalah 'aqidah ataupun keduniawian.Usaha untuk membedakan antara ilmu pengobatan yang diajarkan pada zaman Rasulullah dengan kehidupan Arab pada masa itu bukanlah hal yang signifikan. Pertanyaannya adalah apakah semua atau beberapa dari thibbun nabawi harus dipakai pada zaman sekarang. Jika diagnosis dari suatu penyakit dan semua kondisi di sekitarnya jelas seperti pada zaman Rasulullah, maka kita tidak akan ragu mengatakan bahwa thibbun nabawi harus digunakan. Pada kenyataannya, sulit untuk meyakini bahwa keadaannya sama. Perubahan patologi penyakit, perubahan kelompok genetika pasien, perubahan kelompok genetika tanaman kesehatan, kondisi cuaca dan iklim adalah faktor-faktor tidak tetap yang mungkin membuat pengobatan tertentu yang direkomendasikan oleh Rasulullah tidak sesuai untuk kondisi kesehatan saat ini. Kondisi waktu dan tempat telah berubah. Penggunaan acak ilmu pengobatan secara historis dapat menyebabkan penggunaan obat yang benar untuk penyakit yang salah. Bahkan ada pula permasalahan linguistik, karena makna kata-kata telah berubah. Apa yang disebut demam pada abad 1 H mungkin tidak sama seperti makna zaman sekarang. Bahkan tanaman kesehatan seperti black seed mungkin bukan tanaman yang sama. Oleh karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa ajaran dari thibbun nabawi hanya bisa menjadi fondasi untuk membimbing dan menguatkan penelitian ilmiah untuk terapi pengobatan yang tepat pada zaman kita.

Penelitian Empiris pada thibbun nabawi: Banyak perhatian ilmiah dalam ajaran Rasulullah saw mengenai pengobatan. Jinten hitam (nigella sativa) adalah salah satu contoh pengobatan ala Nabi yang telah dipelajari secara luas oleh umat Muslim dan non-Muslim.

Kesimpulan dan Tantangan Masa Depan: Dari survey di atas kita bisa menyimpulkan bahwa thibbun nabawi adalah sistem kesehatan yang otentik dan valid. Prinsip umum dari sistem ini adalah dapat diaplikasikan di segala tempat dan waktu. Ilmu pengobatan khusus yang diajarkan Nabi Muhammad saw adalah benar dan bermanfaat. Namun tidak akan dapat digunakan pada zaman sekarang tanpa penelitian empiris lebih lanjut.


Note


[1] Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang, cp : 081318681994, e-mail : yusibnuyassin@yahoo.com



Video


Writings of Professor Omar Hasan Kasule, Sr








This section provides thoughts in Islamic Epistemology and Curriculum Reform.
This section covers motivation of a medical student and development of personal skills: social, intellectual, professional behavior etc. It also equips the medical student with leadership skills that will be required of him as a future physician.




New Items

This section contains monthly e-newsletter presents the most recent developments in the fields of Islamic epistemology and educational curriculum reform summarized from books, journals, websites, interviews, and academic proceedings (conferences, seminars, and workshops). We also accept original contributions of less than 500 words...










Recent Uploads


This section provides inter-disciplinary books authored by renowned scholars.

This section contains different e-journals.